Selasa, 16 April 2013

Surat untuk Bu Guru



Hari pertama masuk sekolah, Bu Guru Sahara, guru kelas 5, memandangi murid-muridnya dan berkata, ia menyayangi mereka semua. Kata-kata yang tidak sepenuhnya benar. Rasanya semua guru tahu, di dalam kelas, pasti ada anak yang lebih disayang dan lebih diperhatikan dan ada anak yang tidak disuka karena menjengkelkan.
            Kenyataan ini segera dialami bu Hara. Diantara para muridnya, adalah Budi Utomo yang tak punya banyak teman. Pakaiannya selalu kotor dan Budi keliatan tak pernah mandi. Ternyata Budi adalah anak yang tidak menyenangkan. Dan Ibu Hara tidak berfikir 2 kali nuntuk memberikan nilai merah pada kertas ulangan Budi.
            Di sekolah tempat Bu Hara mengajar ada peraturan yang mengharuskan para guru mengkaji rapor anak dikelas sebelumnya. File Budi dikaji paling akhir. Bu Hara kaget melihat file Budi. Guru kelas satunya menulis “Budi anak cemerlang yang selalu siap tertawa. Menyelesaikan pekerjaan secara rapi dan punya tata krama. Budi anak yang menyenangkan.”
            Guru kalas duanya menulis, “Budi anak istimewa. Sangat disukai teman-temannya, tapi sedang bermasalah karena ibunya menderita penyakit yang tak tersembuhkan. Dan kehidupan dirumah menjadi tidak menyenangkan.”
            Guru kelas tiganya menulis, “kematian Ibunya membuat Budi sangat menderita. Dia berusaha keras, tapi tampaknya ayahnya tidak menyayanginya. Kepribadiannya pasti akan terpengaruh jika tidak dilakukan langkah-langkah tertentu.”
            Guru kelas empatnya menulis, “pelajaran Budi makin mundur dan Budi menunjukkan tak punya minat untuk sekolah. Dia tak punya banyak teman, dan kadang tertidur dikelas.”
            Sesudah mengetahui masalah Budi, Bu Hara menjadi malu dengan dirinya sendiri. Dia makin sedih ketika anak-anak membawakan hadiah ulang tahun untuknya. Semua hadiah dibungkus rapi dengan pita cantik dan kertas bagus,kecuali kado Budi dibungkus dengan kertas Koran bekas pembungkus gorengan yang dibeli ayahnya dari warung pecel. Dengan berat hati Bu Hara membuka Kao Budi didepan murid-muridnya.
            Sebagian anak mulai tertawa ketika Bu Hara mengeluarkan gelang yang beberapa batunya hilang dan sebotol parfum yang isinya tinggal seperempat. Bu Hara menegur murid-muridnya dan mengatakan, betapa cantiknya gelang itu, lalu memakainya. Sesudah itu, ia mengoleskan parfum dipergelangan tangannya.
            Hari itu, Budi Utomo sengaja pulang agak lambat hanya untuk berkata, “Bu Hara, hari ini Ibu tercium seperti bau Ibu saya.”
Sesudah anak-anak pulang, Bu Hara menangis sekitar satu jam.
            Sejak hari itu, Bu Hara memutuskan untuk tidak mengajar membaca dan menulis, dan aritmetika. tapi khusus mengajar anak-anak.
            Ibu Hara memberikan perhatian khusus untuk Budi. Budi seperti kembali hidup. Semakin Bu Hara membesarkan hatinya, semakin cepat Budi menerima pelajaran. Di akhir tahun Budi menjadi anak yang paling pintar dikelasnya, dan kendatipun Bu Hara pernah berbohong, bahwa dia menyayangi semua muridnya dengan kasih sayang yang sama, Budi kini menjadi murid kesayangannya.
            Setahun kemudian Bu Hara menerima surat dari Budi yang diletakkan didepan pintu rumahnya. Budi menulis, bahwa Ia masih tetap guru terbaik sepanjang hidupnya.. enam tahun kemudian Bu Hara menerima surat lain dari Budi. Memberitahu, ia sudah lulus sekolah menengah atas dan jadi juara 3. dan Bu Hara tetap guru terbaik yang pernah dimilikinya seumur hidupnya.
            Empat tahun kemudian, Bu Hara kembali menerima surat dari Budi, yang mengatakan, kendatipun mengalami masa-masa yang sulit, dia tetap sekolah dan bertekun, dan sebentar lagi lulus perguruan tinggi dengan penghargaan tertinggi. Budi kembali meyakinkan Bu Hara bahwa Dia tetap Guru terbaik yang pernah ditemuinya disepanjang hidupnya.
Empat tahun berikutnya, Bu Hara menerima surat dari Budi lagi. Budi menyatakan, Bu Hara tetap guru terbaik yang pernah dimilikinya. Kali ini, nama Budi menjadi lebih panjang: Budi Utomo, MD.
            Kisah tidak berakhir sampai disini. Di bulan September tahun itu, Bu Hara kembali menerima surat dari Budi yang menjelaskan, dia menemukan perempuan idaman yang akan dinikahinya. Karena ayahnya sudah meninggal beberapa tahun lalu, Budi bertanya, apakah Bu Hara bersedia duduk ditempat yang bisaa disediakan untuk ibunda mempelai pria. Tentu saja Bu Hara setuju.
            Di hari itu, Bu Hara mengenakan gelang yang beberapa batunya hilang. Dan Ia berusaha mengenakan parfum yang dalam ingatan Budi, dikenakan Ibunya dalam ulang tahun terakhir bersama Budi. Bu Hara memeluk Budi yang lalu berbisik ditelinganya, “Terimakasih, Bu Hara, untuk percaya kepada saya. Terimakasih banyak untuk membuat saya merasa penting dan menunjukkan kepada saya, bahwa saya bisa melakukan sesuatu yang penting.”
            Ibu Hara, dengan air mata berlinang, berbisik balik, “Budi kamu salah. Kamulah yang mengajari saya, bahwa saya bisa melakukan sesuatu yang penting. Sebelum bertemu dengan kamu, saya tak tahu bagaimana caranya mengajar.”
            Tolong diingat, bahwa kemanapun kamu pergi, apapun yang kamu lakukan, kamu punya kesempatan untuk menyentuh dan / mengubah pandangan seseorang. Jijka kamu melakukannya, tolong lakukan dengan cara yang positif.

Artikel Terkait Cerpen

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...